Kamis, 26 Februari 2026

Kangkung

 Kangkung

Kangkung
Klasifikasi ilmiahSunting klasifikasi ini
Kerajaan:Plantae
Klad:Tracheophyta
Klad:Angiospermae
Klad:Eudikotil
Klad:Asteridae
Ordo:Solanales
Famili:Convolvulaceae
Genus:Ipomoea
Spesies:
I. aquatica
Nama binomial
Ipomoea aquatica
Water spinach, raw
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi79 kJ (19 kcal)
3.14 g
Serat pangan2.1 g
0.2 g
2.6 g
VitaminKuantitas
%AKG
Vitamin A equiv.
39%
315 μg
Tiamina (B1)
3%
0.03 mg
Riboflavin (B2)
8%
0.1 mg
Niasin (B3)
6%
0.9 mg
Asam pantotenat (B5)
3%
0.141 mg
Vitamin B6
7%
0.096 mg
Folat (B9)
14%
57 μg
Vitamin C
66%
55 mg
MineralKuantitas
%AKG
Kalsium
8%
77 mg
Zat besi
13%
1.67 mg
Magnesium
20%
71 mg
Mangan
8%
0.16 mg
Fosfor
6%
39 mg
Potasium
7%
312 mg
Sodium
8%
113 mg
Seng
2%
0.18 mg

Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa.
Sumber: USDA FoodData Central

Kangkung (Ipomoea aquatica) adalah tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan dibudidayakan sebagai tanaman hortikultura. Selain itu, kangkung juga dapat tumbuh liar di rawa-rawa, bahkan dianggap gulma karena pertumbuhannya yang cepat. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia. Negeri asalnya tidak diketahui dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.

Masakan kangkung yang populer adalah cah kangkung bumbu tauco atau terasi, juga di beberapa warung makan menyediakan pelecing kangkung lombok.

Pemerian

Ada dua jenis bentuk kangkung yang dijual di pasaran. Pertama adalah kangkung berdaun licin dan berbentuk mata panah (kangkung air). Biasanya berukuran 10–15 cm. Tumbuhan ini memiliki batang berongga yang menjalar dengan daun berselang dan batang yang menegak pada pangkal daun. Tumbuhan ini bewarna hijau pucat dan menghasilkan bunga bewarna putih, yang menghasilkan kantung yang mengandung empat biji benih.

Jenis kedua adalah dengan daun sempit memanjang (kangkung tanah atau kangkung darat). Daunnya biasanya tersusun menyirip tiga berwarna hijau lebih pekat dibandingkan kangkung air. Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Buleleng menulis, Kangkung Darat (Ipomoea Reptans) berwarna hijau terang dengan ujung daun yang runcing. Warna bunga kangkung darat putih. Dijual dengan cara mengikutkan akarnya. Sedangkan kangkung air biasanya dipotong.[2]

Budidaya

Kelompok Kultivar

Kangkung yang dibudidayakan terbagi ke dalam empat kelompok kultivar.[3] Kangkung sawah (kelompok Lowland) adalah kelompok yang paling dikenal, tumbuh liar di rawa-rawa dangkal dan areal sawah yang terbengkalai. Kangkung jenis ini banyak dikonsumsi secara tradisional.

Kelompok berikutnya adalah kangkung darat atau kelompok Alba, pernah dikenal sebagai Ipomoea reptans Poir. Namun, nama ini sekarang dianggap tidak valid. Kangkung darat berdaun lebih sempit dan lebih adaptif pada lahan kering, sehingga dapat ditanam di tegalan atau bahkan kebun. Kangkung darat lebih mudah dibudidayakan.

Kelompok ketiga adalah kangkung berdaun keunguan atau kelompok Rubra. Kelompok ini daun dan bunganya memiliki warna merah atau ungu, berdaun agak lebar. Kangkung jenis ini juga adaptif pada lahan kering.

Kelompok terakhir adalah kangkung kering atau kelompok Upland, dikenal dalam bahasa Kanton sebagai hon ngung choi. Menurut Rahmad Hidayatulloh Permana kangkung kering merupakan hasil samping dari usaha pertanian produksi biji kangkung. Petani yang membudidayakan kakung hanya untuk mendapatkan biji dari buah kangkung akan menghasilkan kangung kering. Kangkung kering itu sering menjadi limbah karena tidak dimanfaatkan secara maksimal, padahal dapat dijadikan sebagai alternatif hijauan pakan ternak.[4]

Produksi

Ada dua jenis cara budidaya kangkung, yaitu secara kering dan basah. Dalam keduanya, sejumlah besar bahan organik (kompos) dan air diperlukan agar tanaman ini dapat tumbuh dengan subur. Dalam penanaman kering, kangkung ditanam pada jarak 5 inci pada batas dan ditunjang dengan kayu sangga. Kangkung dapat ditanam dari biji benih atau keratan akar. Ia sering ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di kebun. Daun kangkung dapat dipanen setelah 6 minggu ia ditanam.

Jika penanaman basah digunakan, potongan sepanjang 12 inci ditanam dalam lumpur dan dibiarkan basah. Semasa kangkung tumbuh, kawasan basah digenagi air setinggi kurang lebih 6 inci dan aliran air perlahan digunakan. Aliran air ini kemudian dihentikan apabila tanah harus digemburkan. Panen dapat dilakukan 30 hari setelah penanaman. Apabila pucuk tanaman dipetik, cabang dari tepi daun akan tumbuh lagi dan dapat dipanen setiap 7–10 hari.

Semasa berbunga, pucuk kangkung tumbuh dengan lambat, tetapi pembajakan tanah dan panen cenderung menggalakkan lebih banyak daun yang dihasilkan.

Kegunaan

Hampir keseluruhan tanaman muda dapat dimakan. Karena kangkung tua berserat kasar, pucuk yang muda lebih digemari. Ia dapat dimakan mentah atau dimasak seperti bayam. Kangkung kering dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Galeri

Kelor

 Kelor

Kelor
Moringa oleifera
Klasifikasi ilmiahSunting klasifikasi ini
Kerajaan:Plantae
Klad:Tracheophyta
Klad:Angiospermae
Klad:Eudikotil
Klad:Rosidae
Ordo:Brassicales
Famili:Moringaceae
Genus:Moringa
Spesies:
M. oleifera
Nama binomial
Moringa oleifera
Stek Batang Kelor
Stek Batang Kelor

Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Tumbuhan ini dikenal dengan nama lain seperti: limaran, moringa,[2] ben-oil[2] (dari minyak yang bisa diekstrak dari bijinya), drumstick[2] (dari bentuk rumah benihnya yang panjang dan ramping), horseradish tree[2] (dari bentuk akarnya yang mirip tanaman horseradish), dan malunggay[3] di Filipina.

Kelor adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan cepat,[4] berumur panjang,[4] berbunga sepanjang tahun,[5] dan tahan kondisi panas ekstrem. Tanaman ini berasal dari daerah tropis dan subtropis di Asia Selatan.[4] Kelor umum digunakan sebagai bahan makanan dan obat di Indonesia.[6] Biji kelor juga digunakan sebagai penjernih air skala kecil.[6][7]

Deskripsi

Tanaman kelor memiliki ketinggian 7-11 meter, berbatang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar; percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang.[5] Daun kelor memliki ciri berupa: majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling, beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda.[6] Buah berbentuk panjang bersegitiga, panjang 20 – 60 cm; buah muda berwarna hijau - setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat - berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 - 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak.

Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang.

Penelitian terhadap manfaat tanaman mulai dari daun, kulit batang, buah sampai bijinya, sejak awal tahun 1980-an telah dimulai. Ada sebuah laporan hasil penelitian, kajian dan pengembangan terkait dengan pemanfaatan tanaman kelor untuk penghijauan serta penahan penggurunan di Etiopia, Somalia, dan Kenya oleh tim Jerman, di dalam berkala Institute for Scientific Cooperation, Tubingen, 1993. Laporan tersebut dikhususkan terhadap kawasan yang termasuk Etiopia, Somalia, dan Sudan, karena sejak lama sudah menjadi tradisi penduduknya untuk menanam pohon kelor, mengingat pohon tersebut dapat menjadi bagian di dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan sayuran, bahan baku obat-obatan, juga untuk diperdagangkan. Di kawasan Arba Minch dan Konso, pohon kelor justru digunakan sebagai tanaman untuk penahan longsor, konservasi tanah, dan terasering. Sehingga pada musim hujan walau dalam jumlah yang paling minimal, jatuhan air hujan akan dapat ditahan oleh sistem akar kelor, dan pada musim kemarau “tabungan” air sekitar akar kelor akan menjadi sumber air bagi tanaman lain. Juga karena sistem akar kelor cukup rapat, bencana longsor jarang terjadi.

Periset dari Anna Technology University, Tamilnadu, India, C Senthil Kumar, membuktikan bahwa daun kelor memang berkhasiat sebagai hepatoprotektor alias pelindung hati. Menurut dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, kelor mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan dengan masalah pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung. “Bagian apa pun yang dipakai aman asal memperhatikan caranya,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Minumlah rebusan daun kelor selagi air hangat. Sebab, efek antioksidan masih kuat dalam keadaan hangat.

Kandungan

Daun kelor memiliki kandungan vitamin A, B, C, protein, dan mineral. Kelor kaya memiliki kandungan nutrisi dan senyawa yang dibutuhkan tubuh. Kelor mengandung antioksidan, vitamin, asam amino esensial, anti-inflammatory, kandungan senyawa lainnya. Akan tetapi, budidaya, pengolahan dan penyajian kelor juga harus tepat agar nutrisi kelor dapat tetap ada.[8][9] Gopalakrishnan et al., menyatakan bahwa kandungan nutrisi daun kelor berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuh, sehingga keseimbangan nutrisi akan terpenuhi dengan mengonsumsi daun kelor. Adapun keluhan penyakit yang dapat diobati dengan tanaman kelor diantaranya: gangguan penglihatan, penumpukan lemak pada liver, beri-beri, dermatitis, kulit kering, rambut pecah-pecah, pendarahan gusi, anemia, osteoporosis, dan mengatasi gangguan pertumbuhannpada anak/ stunting.[9]

Khasiat

Bayi dan anak-anak pada masa pertumbuhan dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk mengkonsumsi daun kelor. Perbandingan gram, daun kelor mengandung:

  • 7 x vitamin C pada jeruk
  • 4 x kalsium pada susu
  • 4 x vitamin A pada wortel
  • 2 x protein pada susu
  • 3 x potasium pada pisang

Organisasi ini juga menobatkan kelor sebagai pohon ajaib setelah melakukan studi dan menemukan bahwa tumbuhan ini berjasa sebagai penambah kesehatan berharga murah selama 40 tahun ini di negara-negara termiskin di dunia. Pohon kelor memang tersebar luas di padang-padang Afrika, Amerika Latin, dan Asia. National Institute of Health (NIH) pada 21 Maret 2008 mengatakan, bahwa pohon kelor “Telah digunakan sebagai obat oleh berbagai kelompok etnis asli untuk mencegah atau mengobati lebih dari 300 jenis penyakit. Tradisi pengobatan ayurveda India kuno menunjukkan bahwa 300 jenis penyakit dapat diobati dengan daun moringa oleifera.

Dari hasil analisis kandungan nutrisi dapat diketahui bahwa daun kelor memiliki potensi yang sangat baik untuk melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Dengan mengonsumsi daun kelor maka keseimbangan nutrisi dalam tubuh akan terpenuhi sehingga orang yang mengonsumsi daun kelor akan terbantu untuk meningkatkan energi dan ketahanan tubuhnya.

Selain itu, daun kelor juga berkhasiat untuk mengatasi berbagai keluhan yang diakibatkan karena kekurangan vitamin dan mineral seperti kekurangan vitamin A (gangguan penglihatan), kekurangan Choline (penumpukan lemak pada liver), kekurangan vitamin B1 (beri-beri), kekurangan vitamin B2 (kulit kering dan pecah-pecah), kekurangan vitamin B3 (dermatitis), kekurangan vitamin C (pendarahan gusi), kekurangan kalsium (osteoporosis), kekurangan zat besi (anemia), kekurangan protein (rambut pecah-pecah dan gangguan pertumbuhan pada anak).

Efek samping

Selain memiliki manfaat, kelor juga memiliki beberapa efek samping yang perlu diwaspadai. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Menurunkan tekanan darah
  • Memperlambat detak jantung
  • Hipoglikemia atau gula darah rendah
  • Diare
  • Kerusakan hati dan ginjal
  • Bahaya bagi kandungan
  • Reaksi alergi

Efek samping di atas sangat jarang terjadi. Efek samping dapat terjadi akibat Anda memang memiliki alergi atau kondisi lain yang tidak disarankan untuk mengonsumsi tanaman ini. Pada dasarnya, konsumsi daun kelor relatif aman. Namun, Anda sebaiknya tidak mengonsumsi bagian lain seperti bunga, kulit pohon, hingga akarnya.[10]

Kangkung

 Kangkung Kangkung Status konservasi Risiko Rendah     ( IUCN 3.1 ) [ 1 ] Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Klad : Tracheophyta Klad : An...